Budaya

Kiai Nur Shodiq Al-Hafidz, Ulama Penghafal Al-Qur’an dan Perintis Pesantren Tegalsari Ponorogo

Kiai Nur Shodiq Al-Hafidz, Ulama Penghafal Al-Qur’an dan Perintis Pesantren Tegalsari Ponorogo

BERITAPONOROGO.COM: Nama Kiai Ageng Nur Shodiq Al-Hafidz menjadi bagian penting dalam sejarah perkembangan Islam dan pendidikan pesantren di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Ulama yang dikenal sebagai penghafal Al-Qur’an ini turut berperan dalam merintis dan mengelola Pesantren Gebang Tinatar, yang kini dikenal sebagai Pesantren Tegalsari, Kecamatan Jetis.

Kiai Nur Shodiq Al-Hafidz merupakan adik kandung Kiai Ageng Muhammad Besari, tokoh utama yang memimpin Pesantren Tegalsari. Keduanya memiliki peran berbeda, tetapi saling melengkapi dalam membangun kehidupan pesantren dan mengembangkan pendidikan agama Islam pada masanya.

Menurut catatan Pemerintah Kabupaten Ponorogo, Kiai Nur Shodiq tidak hanya dikenal karena kemampuannya menghafal Al-Qur’an. Beliau juga bertanggung jawab mengurus berbagai kebutuhan santri dan mendukung keberlangsungan kegiatan pesantren.

Berperan dalam Perkembangan Pesantren Tegalsari

Perjalanan dakwah Kiai Nur Shodiq tidak dapat dipisahkan dari kiprah Kiai Ageng Muhammad Besari dalam membangun Pesantren Gebang Tinatar. Pesantren tersebut berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan Islam penting di Ponorogo dan memiliki pengaruh luas dalam tradisi keilmuan Islam di Jawa.

Jika Kiai Ageng Muhammad Besari berfokus pada kepemimpinan dan pendidikan para santri, Kiai Nur Shodiq membantu menangani kebutuhan serta pengelolaan kehidupan pesantren. Pembagian peran tersebut mendukung keberlangsungan kegiatan belajar mengajar dan kehidupan para santri.

Kiai Nur Shodiq juga dikenal dengan gelar Al-Hafidz yang merujuk pada kemampuannya menghafal Al-Qur’an. Sejumlah catatan sejarah daerah menyebut beliau sebagai salah satu penghafal Al-Qur’an paling awal yang dikenal dalam sejarah Ponorogo.

Jejak Sejarah yang Terus Dikenang

Penghormatan masyarakat terhadap Kiai Nur Shodiq Al-Hafidz terus berlangsung melalui tradisi haul. Pada 27 Juni 2026, masyarakat menggelar peringatan haul ke-311 di kompleks makam Masjid Jami’ Tegalsari, Kecamatan Jetis.

Rangkaian kegiatan meliputi semaan Al-Qur’an, penggantian kain penutup nisan, tabur bunga, dan manaqib kubro. Ratusan jemaah mengikuti kegiatan tersebut untuk mengenang perjalanan hidup, perjuangan dakwah, serta kontribusi sang ulama terhadap perkembangan Islam di Ponorogo.

Pengasuh Pondok Pesantren Al Barokah Mangunsuman Ponorogo, KH Imam Suyono, dalam kegiatan manaqib kubro menjelaskan peran Kiai Nur Shodiq dalam mengurus kebutuhan santri di Pesantren Gebang Tinatar.

Sementara itu, Kepala Desa Tegalsari, Khoirul Huda, menyebut manaqib kubro sebagai puncak rangkaian peringatan haul tersebut.

Warisan Keilmuan bagi Generasi Mendatang

Kisah Kiai Nur Shodiq Al-Hafidz menunjukkan bahwa perkembangan pesantren tidak hanya ditopang oleh sosok pemimpin, tetapi juga oleh mereka yang mengabdikan diri untuk mengelola kebutuhan pendidikan dan kehidupan para santri.

Keteladanan dalam menjaga Al-Qur’an, mengembangkan pendidikan agama, dan mengabdi kepada masyarakat menjadi bagian dari warisan sejarah yang terus dikenang di Tegalsari.

Hingga kini, kawasan Masjid Jami’ Tegalsari dan makam para tokoh ulama di sekitarnya menjadi bagian penting dari sejarah Islam sekaligus tujuan wisata religi di Kabupaten Ponorogo.

Mengenang Kiai Nur Shodiq Al-Hafidz bukan sekadar mengingat sosok ulama masa lampau, melainkan juga memahami kontribusi para perintis pesantren dalam membangun tradisi keilmuan Islam yang diwariskan lintas generasi.