Budaya

Bukan Hanya Reog, Ponorogo Punya Jaran Thik hingga Tari Keling yang Menarik Ditelusuri

Bukan Hanya Reog, Ponorogo Punya Jaran Thik hingga Tari Keling yang Menarik Ditelusuri

BERITAPONOROGO.COM: Kekayaan kesenian tradisional Kabupaten Ponorogo tidak berhenti pada Reog yang telah mendunia. Daerah berjuluk Bumi Reog ini juga memiliki beragam kesenian rakyat, seperti Jaran Thik, Gajah-gajahan, Tari Keling, dan musik Odrot yang memperlihatkan keragaman ekspresi seni masyarakat setempat.

Pemerintah Kabupaten Ponorogo pernah menampilkan beragam kesenian tersebut dalam Parade Budaya Serenade Langit Tembaga pada 31 Agustus 2024. Kesenian dari berbagai wilayah ikut meramaikan parade yang menempuh rute dari kawasan bekas Pasar Lanang menuju Paseban Alun-Alun Ponorogo.

Keberagaman tersebut memperlihatkan bahwa kehidupan seni di Ponorogo tumbuh melalui berbagai bentuk pertunjukan, mulai dari tari, musik, hingga kesenian arak-arakan yang melibatkan masyarakat.

Jaran Thik, Kesenian yang Hadir di Panggung Festival

Jaran Thik menjadi salah satu kesenian yang tampil dalam Ponorogo Creative Festival 2026. Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Ponorogo mencatat kesenian ini tampil pada malam kedua festival, Rabu, 5 Agustus 2026, setelah pertunjukan Reog.

Kehadiran Jaran Thik dalam festival tersebut menunjukkan bahwa panggung seni daerah dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan kesenian selain Reog kepada masyarakat yang lebih luas.

Pementasan dalam agenda resmi juga membuka kesempatan bagi pelaku seni untuk menjaga keberlanjutan pertunjukan dan memperkenalkan kesenian tradisional kepada generasi muda.

Gajah-gajahan, Kesenian Rakyat dalam Parade Budaya

Gajah-gajahan juga tercatat sebagai bagian dari keragaman kesenian Ponorogo. Kesenian ini tampil dalam parade budaya bersama sejumlah kesenian lain, termasuk Jaran Thik, Tari Keling, dan Odrot.

Berbeda dengan pertunjukan Reog yang dikenal melalui Dadak Merak dan tokoh-tokoh khasnya, Gajah-gajahan menghadirkan bentuk pertunjukan rakyat tersendiri. Kehadirannya dalam parade memperkaya tampilan budaya daerah sekaligus memberi ruang bagi kelompok seni untuk menunjukkan karya mereka.

Pemerintah daerah memasukkan Gajah-gajahan dalam daftar kesenian yang ikut meramaikan parade budaya Ponorogo.

Tari Keling, Warisan Seni yang Patut Dikenalkan

Tari Keling juga menjadi bagian dari kesenian yang ditampilkan dalam Parade Budaya Serenade Langit Tembaga pada 2024. Keikutsertaannya menunjukkan bahwa Ponorogo memiliki ragam seni tari yang perlu terus dikenalkan kepada masyarakat.

Pengenalan Tari Keling dapat dilakukan melalui pertunjukan budaya, pendidikan, dokumentasi, dan keterlibatan komunitas seni. Namun, penjelasan mengenai sejarah, karakter gerak, serta makna simboliknya perlu merujuk pada keterangan pelaku atau peneliti yang memahami kesenian tersebut agar informasi yang disampaikan kepada publik tetap akurat.

Odrot, Musik yang Memperkaya Keragaman Seni Ponorogo

Selain tari dan pertunjukan rakyat, Ponorogo juga memiliki musik Odrot yang tercatat dalam parade budaya daerah. Kehadiran kesenian musik tradisional ini memperlihatkan bahwa identitas seni Ponorogo tidak hanya dibangun melalui gerak tari, tetapi juga melalui bunyi dan pertunjukan musikal.

Pementasan musik tradisional dalam kegiatan budaya dapat menjadi sarana untuk mempertemukan pelaku seni lintas generasi. Upaya dokumentasi dan pembinaan juga penting agar pengetahuan tentang alat musik, teknik permainan, serta repertoar tetap terjaga.

Reog Tetap Menjadi Ikon, Kesenian Lain Perlu Mendapat Ruang

Reog tetap menjadi ikon budaya utama Ponorogo. Pemerintah daerah menyebut kesenian ini telah ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda melalui keputusan pada 3 Desember 2024. Ponorogo juga bergabung dengan UNESCO Creative Cities Network pada 2025 dalam kategori Crafts and Folk Art.

Di sisi lain, keberadaan Jaran Thik, Gajah-gajahan, Tari Keling, dan Odrot memperlihatkan luasnya potensi seni daerah. Kesenian-kesenian tersebut membutuhkan ruang pertunjukan, regenerasi pelaku, dokumentasi, serta perhatian yang berkelanjutan.

Pelestarian seni tradisional tidak cukup hanya dengan menggelar festival. Masyarakat juga perlu mengenal sejarah dan karakter setiap kesenian, sementara pemerintah, sekolah, sanggar, dan komunitas dapat memperkuat proses pewarisan kepada generasi berikutnya.

Dengan memberikan ruang bagi beragam kesenian, Ponorogo dapat menjaga kekayaan budaya sekaligus memperkuat daya tariknya sebagai daerah yang memiliki tradisi seni yang hidup.