BERITAPONOROGO.COM: Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Ponorogo Lisdyarita meminta peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi juga mampu menarik partisipasi generasi muda. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ponorogo menyiapkan rangkaian kegiatan keagamaan dan melibatkan berbagai organisasi masyarakat untuk memperkuat identitas Ponorogo sebagai Kota Santri.
Persiapan tersebut dibahas dalam rapat koordinasi yang dipimpin Lisdyarita di Ruang Bantarangin, Ponorogo, pada Senin, 5 Oktober 2026. Rapat itu diikuti jajaran perangkat daerah, organisasi kemasyarakatan, organisasi mahasiswa, serta lembaga Islam.
Mengacu pada informasi resmi Pemkab Ponorogo, rangkaian kegiatan HSN tahun ini mencakup lomba tilawah Al-Qur’an, festival hadrah, lomba dai cilik, khotmil Qur’an serentak, apel besar, dan pawai obor. Puncak peringatan Hari Santri Nasional berlangsung pada 22 Oktober 2026.
Lisdyarita menekankan bahwa peringatan Hari Santri bukan hanya milik pemerintah daerah. Karena itu, ia meminta panitia membuka ruang keterlibatan masyarakat, khususnya kalangan pemuda dan mahasiswa.
“Kegiatan ini bukan hanya milik Pemkab saja, tetapi panitia harus melibatkan semua unsur, dari mahasiswa, organisasi, lembaga. Kita beri kesempatan kepada anak muda untuk terlibat,” kata Lisdyarita, sebagaimana dikutip dari publikasi resmi Pemkab Ponorogo.
Pendekatan tersebut diharapkan membuat peringatan Hari Santri lebih relevan bagi generasi muda tanpa meninggalkan nilai sejarah, keagamaan, dan kebangsaan yang melatarbelakanginya.
Pemkab Ponorogo juga menyiapkan imbauan kepada masyarakat untuk mengenakan pakaian khas santri selama satu pekan sebagai bagian dari kemeriahan peringatan.
Sejumlah organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan masuk dalam rencana pelibatan kepanitiaan, di antaranya Ansor, IPNU-IPPNU, Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah, PMII, HMI, dan IMM.
Pelibatan berbagai organisasi tersebut menjadi salah satu upaya memperluas partisipasi masyarakat dalam kegiatan daerah. Selain menyemarakkan acara, keterlibatan pemuda diharapkan dapat mendorong regenerasi kepemimpinan dan memperkuat kebersamaan lintas organisasi.
Pemkab Ponorogo menyebut peringatan HSN 2026 mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”. Tema ini menempatkan santri sebagai bagian dari pembangunan bangsa, tidak hanya dalam bidang keagamaan, tetapi juga dalam kehidupan sosial dan kebangsaan.
Ponorogo memiliki identitas sebagai Kota Reog sekaligus Kota Santri. Karena itu, penyelenggaraan HSN menjadi momentum bagi pemerintah daerah dan masyarakat untuk menjaga tradisi pesantren sekaligus memperkenalkannya kepada generasi muda.
Tantangannya bukan sekadar menghadirkan acara yang ramai, melainkan memastikan setiap kegiatan memiliki nilai edukasi, memperkuat toleransi, serta menumbuhkan pemahaman generasi muda terhadap kontribusi santri dalam perjalanan bangsa.
Dengan melibatkan organisasi masyarakat, lembaga pendidikan, dan generasi muda, peringatan HSN 2026 diharapkan menjadi ruang kolaborasi yang lebih luas.
Pemkab Ponorogo berharap rangkaian kegiatan tersebut dapat mempererat kerukunan masyarakat sekaligus memperkuat identitas daerah sebagai Kota Santri.




