Kuliner

Kuliner Ponorogo Naik Kelas, Empat Kampung Sate dan Dawet Kini Jadi Kampung Halal

istimewa
istimewa

BERITAPONOROGO.COM: Berburu kuliner khas di Ponorogo kini bukan hanya soal mencari makanan yang enak. Sejumlah sentra kuliner lokal mulai didorong menjadi bagian dari destinasi wisata sekaligus mendapatkan jaminan sertifikasi halal.

Terbaru, empat kampung kuliner di Kabupaten Ponorogo resmi naik kelas menjadi Kampung Halal setelah para pelaku usaha di dalamnya memperoleh sertifikasi halal.

Empat kawasan tersebut yakni Kampung Sate di Kelurahan Nologaten, Purbosuman, dan Setono, serta Kampung Dawet di Desa Jabung.

Kampung-kampung kuliner tersebut selama ini dikenal sebagai bagian dari wajah kuliner khas Ponorogo. Sate ayam menjadi salah satu makanan yang paling lekat dengan Bumi Reog, sementara Dawet Jabung menawarkan cita rasa tradisional yang sudah dikenal masyarakat.

Bagi pemburu kuliner, kawasan seperti ini menawarkan pengalaman yang berbeda. Pengunjung tidak hanya datang untuk makan, tetapi juga bisa mengenal bagaimana makanan khas Ponorogo tetap bertahan di tengah perkembangan tren kuliner.

Bukan Sekadar Tempat Makan

Pemkab Ponorogo melihat keberadaan kampung kuliner tersebut memiliki potensi lebih besar daripada sekadar sentra penjualan makanan.

Setelah memperoleh sertifikasi halal, pelaku usaha diharapkan memiliki peluang pasar yang lebih luas. Sertifikasi tersebut memberikan kepastian kepada konsumen sekaligus menjadi salah satu modal bagi UMKM untuk mengembangkan produknya.

Plt Bupati Ponorogo Lisdyarita mengatakan bertambahnya pelaku UMKM yang memperoleh sertifikasi halal menjadi kabar baik bagi pelaku usaha maupun konsumen.

Menurutnya, jaminan halal dapat membuat produk UMKM lebih mudah diterima masyarakat dan dipasarkan lebih luas.

Harapannya, kuliner khas Ponorogo tidak berhenti sebagai makanan yang dicari ketika orang datang ke kota ini. Produk lokal juga diharapkan bisa menjangkau konsumen di berbagai daerah.

Dari Sate hingga Dawet Jabung

Sate ayam menjadi salah satu ikon kuliner Ponorogo. Ciri khasnya terletak pada potongan daging ayam yang disayat tipis memanjang sebelum dibakar dan disajikan dengan bumbu khas.

Di sisi lain, Dawet Jabung menawarkan karakter kuliner yang berbeda. Minuman tradisional tersebut menjadi bagian dari identitas kuliner Desa Jabung.

Keduanya menunjukkan bahwa kekuatan kuliner Ponorogo tidak hanya berada pada satu jenis makanan.

Ada makanan berat, jajanan tradisional, minuman khas, hingga berbagai produk UMKM yang terus berkembang.

Tren tersebut juga terlihat dari munculnya berbagai konsep kuliner baru yang tetap membawa cita rasa lokal. Salah satunya Pasar Tematik Dam Cokro yang mengangkat makanan tempo dulu dengan suasana rikolo semono. Pengunjung dapat menikmati beragam jajanan tradisional seperti getuk dan polo pendem.

Konsep semacam ini membuat kuliner tradisional tidak hanya menjadi makanan rumahan, tetapi juga bagian dari pengalaman wisata.

Bisa Jadi Destinasi Wisata Kuliner

Pemkab Ponorogo berharap kampung kuliner tidak berhenti sebagai tempat berkumpulnya para pedagang makanan.

Ke depan, kawasan tersebut diharapkan berkembang menjadi destinasi wisata gastronomi. Artinya, orang datang ke Ponorogo bukan hanya untuk mencicipi makanan, tetapi juga menikmati suasana, mengenal tradisi, serta melihat aktivitas pelaku UMKM di sentra kuliner tersebut.

Bagi Ponorogo, peluang itu cukup besar. Identitas sebagai Kota Reog sudah kuat, sementara kekayaan kulinernya juga memiliki cerita sendiri.

Tinggal bagaimana makanan khas tersebut terus dijaga rasanya, dikemas dengan menarik, dan diperkenalkan lebih luas tanpa kehilangan identitas lokal.

Sebab, kalau sudah ngomong soal kuliner Ponorogo, bukan hanya soal wareg. Ada cerita, tradisi, dan identitas daerah yang ikut disajikan di atas meja.