Destinasi

Masjid Baiturrahman Setono, Jejak Awal Dakwah Islam Sebelum Tegalsari Mendunia

Masjid Baiturrahman

BERITAPONOROGO.COM: Jauh dari hiruk-pikuk jalan raya, di antara permukiman dan aliran Sungai Keyang, sebuah masjid tua berdiri tenang di Dukuh Setono, Desa Tegalsari, Kecamatan Jetis, Kabupaten Ponorogo. Namanya Masjid Baiturrahman.

Bangunannya mungkin tidak sebesar dan setenar Masjid Jami’ Tegalsari yang berada tidak jauh dari tempat itu. Namun, di balik kesederhanaannya, masjid ini menyimpan mata rantai penting sejarah perkembangan Islam di Ponorogo.

Bagi masyarakat setempat, Setono bukan sekadar sebuah dukuh. Kawasan ini menjadi salah satu titik awal perjalanan panjang tradisi keilmuan Islam yang kemudian berkembang di Tegalsari.

Bahkan, Pemerintah Kabupaten Ponorogo menyebut Masjid Baiturrahman sebagai bagian penting dari napak tilas perjalanan Kiai Ageng Muhammad Besari, tokoh yang kemudian mendirikan Masjid dan Pesantren Gebang Tinatar di Tegalsari.

Dari Setono, Kisah Besar Tegalsari Bermula

Sejarah Setono berkaitan erat dengan nama Kiai Ageng Donopuro. Kajian akademik mengenai Pesantren Tegalsari mencatat bahwa Kiai Donopuro memiliki hubungan dengan garis keturunan Sunan Tembayat dan menjadi tokoh penting dalam perkembangan pusat keislaman di Setono. Ia kemudian menjadi guru Kiai Ageng Muhammad Besari.

Dalam tradisi sejarah masyarakat Setono, kawasan tersebut juga berkaitan dengan Pangeran Sumendhe atau Sumende Ragil dan para pendakwah dari Tembayat.

Sejumlah sumber lokal menyebut tiga tokoh yang berada dalam lingkungan dakwah tersebut, yakni Kiai Donopuro, Kiai Noyopuro, dan Kiai Wongsopuro. Mereka kemudian mengembangkan kehidupan keagamaan di kawasan Setono.

Kisah itu pula yang menjelaskan mengapa keberadaan Masjid Baiturrahman tidak dapat dipisahkan dari sejarah Tegalsari.

Sebelum Tegalsari berkembang sebagai pusat pendidikan Islam yang dikenal luas, Setono telah menjadi tempat berlangsungnya aktivitas keagamaan dan pendidikan pesantren.

Pesantren Setono berada di sebelah barat Sungai Keyang, sedangkan kawasan yang kemudian berkembang menjadi Tegalsari berada di sebelah timur sungai. Kiai Donopuro kemudian meminta Muhammad Besari membuka lahan di sebelah timur Setono. Dari lahan tersebut berkembang kawasan yang kemudian dikenal sebagai Tegalsari.

Masjid yang Menyimpan Tradisi Tahun 1600

Di bagian depan Masjid Baiturrahman terdapat penanda tahun yang menyebut angka 1600 Masehi sebagai tahun berdirinya masjid.

Informasi mengenai tahun tersebut juga muncul dalam catatan sejarah lokal mengenai Masjid Baiturrahman. Sumber tersebut menyebut masjid berdiri jauh sebelum Masjid Tegalsari yang sekarang dikenal luas sebagai salah satu masjid bersejarah di Ponorogo.

Namun, angka tahun itu perlu ditempatkan secara hati-hati.

Belum ditemukan sumber pemerintah atau kajian arkeologis yang secara independen menetapkan 1600 M sebagai tahun pasti pendirian Masjid Baiturrahman. Karena itu, tahun tersebut lebih tepat disebut sebagai tradisi sejarah yang tercantum pada penanda masjid dan diwariskan masyarakat setempat.

Yang relatif lebih kuat berdasarkan sumber akademik dan sejarah lokal adalah keberadaan Pondok Setono dan Kiai Donopuro sebagai bagian dari mata rantai awal perkembangan Islam di kawasan tersebut.

Tempat Kiai Ageng Muhammad Besari Menimba Ilmu

Nilai penting Masjid Baiturrahman semakin terasa ketika nama Kiai Ageng Muhammad Besari masuk dalam ceritanya.

Sebelum membangun pusat dakwah di Tegalsari, Kiai Muhammad Besari belajar kepada Kiai Donopuro di Setono.

Masjid Baiturrahman sebagai tempat Kiai Ageng Muhammad Besari menimba ilmu kepada Kiai Ageng Donopuro sebelum mendirikan Masjid dan Pesantren Gebang Tinatar di lokasi Tegalsari yang sekarang.

Setelah mendapat bimbingan dari Kiai Donopuro, Kiai Muhammad Besari kemudian membuka lahan di sebelah timur Sungai Keyang.

Lahan yang semula berupa tegalan itu berkembang menjadi kawasan yang kemudian dikenal dengan nama Tegalsari. Di kawasan tersebut Muhammad Besari mendirikan pesantren yang kelak berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan Islam berpengaruh di Jawa.

Dengan demikian, sejarah Tegalsari yang masyhur tidak berdiri sendiri. Ada Setono di belakangnya. Dan di Setono terdapat jejak Masjid Baiturrahman.

Dari Masjid Kecil Menuju Pusat Keilmuan Islam

Perjalanan sejarah kemudian membawa Tegalsari memasuki masa kejayaan. Masjid Jami’ Tegalsari yang sekarang dikenal luas berdiri sekitar abad ke-18 dan berkaitan erat dengan Kiai Ageng Muhammad Besari. Masjid Tegalsari  salah satu situs penting sejarah Islam dan pendidikan Islam di Jawa Timur.

Pesantren Tegalsari kemudian menarik santri dari berbagai daerah. Sejumlah tokoh penting dalam sejarah Jawa juga memiliki hubungan dengan lingkungan pendidikan Tegalsari, termasuk Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyawa, Pakubuwono II, dan Ranggawarsita dalam berbagai sumber sejarah mengenai pesantren tersebut.

Karena itu, Masjid Baiturrahman dapat dipandang sebagai salah satu titik penting dalam mata rantai sejarah yang menghubungkan Setono, Kiai Donopuro, Kiai Ageng Muhammad Besari, hingga berkembangnya Tegalsari sebagai pusat pendidikan Islam.

Bedug Tua dan Mimbar yang Bertahan

Sejarah panjang itu tidak hanya hidup melalui cerita. Sejumlah benda lama masih menjadi bagian dari Masjid Baiturrahman. Masyarakat setempat masih menyimpan bedug berdiameter sekitar satu meter di serambi masjid. Sebuah mimbar lama juga tersimpan di bagian serambi pawestren. Bangunan masjid sendiri mengalami beberapa kali pemugaran.

Catatan mengenai renovasi menyebut pemugaran pertama berlangsung pada 1924. Saat itu pengurus meninggikan fondasi masjid dan mengganti dinding anyaman bambu dengan tembok yang lebih kuat. Pengurus juga membangun serambi untuk menambah ruang masjid.

Renovasi berikutnya berlangsung pada 1992, sedangkan perbaikan kembali dilakukan pada 2007, antara lain pada bagian atap dan lantai. Proses renovasi tersebut mendapat dukungan swadaya masyarakat dan sumbangan berbagai pihak.

Riwayat pemugaran tersebut menunjukkan satu hal penting, masyarakat tidak membiarkan masjid tua itu berhenti menjadi peninggalan masa lalu. Mereka tetap menggunakannya sebagai rumah ibadah.

Pondok yang Pernah Berdiri di Halaman Masjid

Di sekitar Masjid Baiturrahman, tradisi pendidikan agama juga pernah berkembang. Menurut keterangan masyarakat setempat, dahulu terdapat pondok di sisi utara masjid. Kondisi bangunan yang semakin rusak kemudian mendorong masyarakat membongkarnya pada 1982. Material dan lahannya kemudian digunakan untuk memperbaiki fasilitas tempat wudu. Jejak pondok tersebut memang tidak lagi terlihat seperti dahulu. Namun, cerita tentangnya tetap menjadi bagian dari ingatan masyarakat Setono.

Kisah itu sekaligus memperkuat gambaran bahwa fungsi Setono pada masa lalu tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai ruang pendidikan dan pembentukan jaringan ulama.

Setono yang Tidak Boleh Hilang dari Peta Sejarah

Hari ini, nama Tegalsari jauh lebih dikenal. Peziarah datang ke Masjid Jami’ Tegalsari dan makam Kiai Ageng Muhammad Besari. Pemerintah Kabupaten Ponorogo bahkan memasukkan kawasan makam tersebut sebagai salah satu tujuan wisata religi.  Tetapi sebelum ribuan orang mengenal Tegalsari, ada Setono.

Sebelum nama Kiai Ageng Muhammad Besari menjadi bagian penting dari sejarah pesantren Jawa, ada Kiai Donopuro yang menjadi salah satu gurunya. Dan sebelum pusat pendidikan Islam berkembang di sebelah timur Sungai Keyang, masyarakat Setono telah membangun kehidupan keagamaan di kawasan tersebut.

Karena itu, Masjid Baiturrahman bukan sekadar bangunan tua di sudut Desa Tegalsari. Ia merupakan bagian dari rantai sejarah dakwah Islam di Ponorogo. Persoalannya, jejak sejarah tersebut masih membutuhkan perhatian lebih serius.

Masjid Baiturrahman memiliki nilai sejarah yang kuat berdasarkan tradisi lokal, sumber sejarah, dan kaitannya dengan perjalanan Kiai Ageng Muhammad Besari. Namun, status dan tahun pendiriannya tetap membutuhkan kajian historis, arkeologis, serta dokumentasi resmi agar masyarakat memperoleh kepastian sejarah yang lebih kuat.

Pelestarian tidak cukup hanya dengan mempertahankan bangunan. Masyarakat juga perlu menjaga cerita, manuskrip, benda peninggalan, silsilah, dan berbagai sumber sejarah yang menjadi penyangga keberadaan masjid tersebut.

Sebab, jika bangunannya masih berdiri tetapi sejarahnya hilang, generasi berikutnya hanya akan melihat sebuah masjid tua. Padahal di balik dindingnya, tersimpan salah satu mata rantai perjalanan panjang Islam dan tradisi pesantren di Ponorogo.