Oleh: Sobat BP
BERITAPONOROGO.COM: Ada sebuah nama yang mungkin dianggap biasa oleh masyarakat Ponorogo. Setono. Namun, coba perhatikan lebih jauh. Nama itu muncul di dua tempat berbeda.
Setono di Kecamatan Jenangan dan Setono di Desa Tegalsari, Kecamatan Jetis. Jarak keduanya tidak membuat pertanyaan ini menjadi sederhana.
Sebab, kedua tempat tersebut ternyata sama-sama menyimpan jejak sejarah penting. Keduanya juga berkaitan dengan perkembangan Islam di Ponorogo dan hingga kini masih menjadi tujuan masyarakat untuk berziarah.
Di Setono Jenangan, sejarah membawa kita kepada Bathoro Katong, tokoh yang dikenal dalam historiografi lokal sebagai pendiri Kadipaten Ponorogo.
Di Setono Tegalsari, sejarah membawa kita kepada Kiai Danapura atau Kiai Donopuro, guru Kiai Ageng Muhammad Besari, yang kemudian mengembangkan Tegalsari menjadi salah satu pusat pendidikan Islam penting di Jawa.
Lantas muncul sebuah pertanyaan sederhana, tetapi sulit dijawab:
Mengapa keduanya bernama Setono?
Apakah hanya kebetulan?
Atau ada jejak sejarah yang belum sepenuhnya terbaca?
SETONO JENANGAN DAN AWAL MULA PONOROGO
Untuk menjawabnya, kita harus mundur beberapa abad.
Dalam historiografi Ponorogo yang bersumber antara lain dari Babad Ponorogo, Raden Katong atau Bathoro Katong datang ke wilayah Wengker dan kemudian memilih kawasan yang sekarang dikenal sebagai *Setono, Jenangan*, sebagai tempat permukiman.
Di kawasan inilah perjalanan politik dan dakwah yang kemudian melahirkan Kadipaten Ponorogo berkembang.
Bathoro Katong tidak berjalan sendiri.
Ia bersama sejumlah tokoh dan pengikutnya membangun basis kekuatan, melakukan pendekatan dengan masyarakat setempat, dan mengembangkan kehidupan baru di wilayah Wengker.
Pemerintah Kabupaten Ponorogo mencatat Bathoro Katong sebagai adipati pertama Ponorogo dan menetapkan 11 Agustus 1496 sebagai hari jadi Kabupaten Ponorogo.
Maka Setono Jenangan memiliki posisi penting dalam ingatan sejarah Ponorogo. Bukan semata karena nama sebuah wilayah.
Tetapi karena di sanalah salah satu babak awal sejarah Ponorogo diletakkan.
Kompleks makam Bathoro Katong kemudian menjadi salah satu tujuan ziarah yang ramai dikunjungi masyarakat. Sejarah, makam, tradisi, dan spiritualitas akhirnya bertemu di tempat yang sama.
LALU MUNCUL SETONO KEDUA
Sekarang kita bergerak ke arah Tegalsari. Di Desa Tegalsari, Kecamatan Jetis, terdapat kawasan yang juga dikenal sebagai Setono. Sekilas, mungkin tidak ada yang istimewa.
Namun jika sejarahnya dibuka, tempat ini ternyata menyimpan cerita yang tidak kalah penting.
Di Setono inilah berdiri Pondok Setono, yang berkaitan dengan Kiai Danapura atau Kiai Donopuro. Nama ini kemudian muncul dalam perjalanan pendidikan Kiai Ageng Muhammad Besari. Muhammad Besari menimba ilmu kepada Kiai Donopuro.
Setelah itu, ia mendapat amanah membuka lahan di sebelah timur Pondok Setono. Lahan tersebut pada awalnya berupa tegalan. Di sanalah kemudian tumbuh kawasan yang dikenal sebagai Tegalsari. Jadi, jika kita mengikuti alur sejarah tersebut, ada sebuah rangkaian yang menarik:
Setono → Muhammad Besari → Tegalsari → Pesantren Tegalsari.
Dengan demikian, Setono Tegalsari bukan sekadar nama yang kebetulan muncul di dekat Tegalsari. Ia merupakan bagian dari fase awal perjalanan sejarah Tegalsari.
DARI SETONO LAHIR TEGALSARI
Di kawasan baru itulah Kiai Ageng Muhammad Besari kemudian mengembangkan pesantren.
Pesantren tersebut dikenal sebagai Pesantren Gebang Tinatar atau Pesantren Tegalsari. Dari sinilah nama Tegalsari semakin dikenal. Tradisi keilmuan berkembang. Santri berdatangan. Pengaruh pesantren meluas.
Masjid Jami’ Tegalsari kemudian menjadi salah satu peninggalan penting yang masih berdiri hingga sekarang.
Pemerintah Kabupaten Ponorogo mencatat Masjid Jami’ Tegalsari sebagai salah satu bangunan masjid tua yang memiliki nilai sejarah penting dalam perkembangan Islam di Ponorogo.
Tegalsari pun tidak lagi sekadar sebuah desa. Ia berubah menjadi pusat keilmuan. Dan pengaruhnya menembus batas Ponorogo.
Sejumlah tokoh penting dalam sejarah Jawa disebut memiliki hubungan dengan lingkungan pendidikan Tegalsari, termasuk Susuhunan Pakubuwono II dan pujangga Ronggowarsito.
Artinya, sebuah perjalanan yang bermula dari Setono kemudian melahirkan sebuah pusat pendidikan yang pengaruhnya jauh lebih luas.
DUA SETONO, DUA TOKOH BESAR
Di sinilah teka-teki itu semakin menarik. Setono Jenangan berkaitan dengan Bathoro Katong.
Setono Tegalsari berkaitan dengan Kiai Donopuro dan Kiai Ageng Muhammad Besari. Bathoro Katong berada dalam fase awal terbentuknya Ponorogo. Muhammad Besari berada dalam fase berkembangnya tradisi pendidikan Islam.
Dua tokoh. Dua zaman. Dua lokasi. Tetapi memiliki satu kesamaan: Setono.
Apakah ini sekadar kebetulan nama?
Secara ilmiah, kita belum mempunyai bukti yang cukup untuk mengatakan bahwa kedua nama tersebut sengaja dibuat sama karena sebuah hubungan langsung. Namun, ada hal yang tidak bisa diabaikan.
Kedua tempat itu sama-sama berada dalam lanskap sejarah perkembangan Islam Ponorogo.
Dan keduanya kemudian menjadi tempat yang dihormati dan didatangi peziarah.
MISTERI “PINDAH PULUNG”
Di sinilah cerita menjadi semakin menarik. Dalam tradisi masyarakat Tegalsari terdapat cerita mengenai “pindah pulung”.
Dalam pandangan budaya Jawa, pulung dapat dimaknai sebagai wahyu, keberkahan, atau tanda legitimasi yang menyertai seseorang maupun suatu tempat.
Tradisi tersebut dikaitkan dengan perpindahan pusat kegiatan dari Setono menuju Tegalsari.
Ketika Kiai Donopuro semakin sepuh dan aktivitas Pondok Setono mulai surut, para santri kemudian beralih ke Pesantren Tegalsari yang berkembang di bawah Kiai Ageng Muhammad Besari.
Masyarakat kemudian memaknainya sebagai pindahnya pulung dari Setono menuju Tegalsari.
Secara akademis, tentu kita tidak dapat membuktikan bahwa ada sesuatu yang benar-benar berpindah secara gaib.
Tetapi cerita tersebut merupakan bagian dari tradisi tutur yang menarik. Sebab masyarakat masa lalu menggunakan bahasa budaya untuk menjelaskan perubahan besar yang mereka lihat.
Dan bagi masyarakat Jawa, perubahan sebuah pusat kekuasaan atau pusat keilmuan tidak selalu cukup dijelaskan dengan logika geografis.
Ada dimensi spiritual yang ikut menyertainya.
JIKA SETONO BISA BERBICARA
Bayangkan seandainya dua Setono itu bisa berbicara. Setono Jenangan mungkin akan bercerita tentang perjalanan Bathoro Katong ketika membangun fondasi Ponorogo.
Tentang Wengker. Tentang para pengikutnya. Tentang pergulatan membangun pemerintahan dan kehidupan baru.
Sementara Setono Tegalsari mungkin akan bercerita tentang seorang murid bernama Muhammad Besari yang datang menuntut ilmu.
Tentang Kiai Donopuro. Tentang para santri. Tentang sebuah tegalan di seberang sungai yang kemudian berkembang menjadi Tegalsari. Dan dari sana, lahir sebuah pesantren yang namanya dikenal jauh melampaui batas Ponorogo.
Dua tempat. Dua cerita. Namun keduanya sama-sama menjadi saksi perjalanan Islam di Ponorogo.
KEBETULAN ATAU ADA POLA?
Pertanyaan ini mungkin tidak akan pernah terjawab hanya dengan melihat peta.
Diperlukan penelitian lebih jauh. Arsip. Babad. Manuskrip pesantren. Prasasti. Sejarah lisan. Bahkan penelitian toponimi atau asal-usul nama tempat. Sebab nama sebuah daerah sering kali bukan muncul tanpa alasan. Namun nama Setono sendiri juga perlu diteliti secara hati-hati.
Jangan sampai karena dua daerah memiliki nama sama, kita langsung menyimpulkan keduanya pasti mempunyai asal-usul yang sama.
Itu belum terbukti. Justru di sinilah penelitian sejarah menjadi menarik. Kesamaan nama adalah petunjuk untuk bertanya, bukan bukti untuk menyimpulkan.
YANG PASTI: KEDUANYA MENJADI RUANG ZIARAH
Ada satu persamaan lain yang lebih nyata. Setono Jenangan memiliki kompleks makam Bathoro Katong. Setono Tegalsari memiliki makam Kiai Danapura.
Sementara tidak jauh dari sana terdapat makam Kiai Ageng Muhammad Besari dan Masjid Jami’ Tegalsari.
Masyarakat datang dari berbagai daerah. Ada yang datang untuk berdoa. Ada yang datang untuk mengenang tokoh. Ada yang datang untuk mempelajari sejarah. Ada pula yang datang karena tradisi keluarga. Di sinilah batas antara sejarah dan tradisi menjadi sangat tipis.
Tetapi justru dari situlah identitas budaya Ponorogo terbentuk.
MUNGKIN BUKAN NAMA YANG SAMA, TETAPI INGATAN YANG SAMA
Pada akhirnya, mungkin pertanyaan paling menarik bukan:
“Mengapa kedua tempat itu bernama Setono?”
Melainkan:
“Mengapa dua tempat berbeda itu sama-sama menyimpan sejarah yang begitu kuat?”
Setono Jenangan mengingatkan kita pada Bathoro Katong dan fase awal terbentuknya Ponorogo.
Setono Tegalsari mengingatkan kita pada Kiai Donopuro, Kiai Ageng Muhammad Besari, dan lahirnya tradisi pendidikan Islam Tegalsari.
Satu menjadi bagian dari sejarah berdirinya kadipaten. Satu menjadi bagian dari sejarah berkembangnya pesantren. Keduanya kemudian menjadi ruang ziarah. Maka, boleh jadi kesamaan nama itu hanyalah kebetulan. Boleh jadi pula terdapat sejarah toponimi yang belum ditemukan.
Tetapi satu hal jelas, dua Setono tersebut telah menjadi dua simpul penting dalam ingatan sejarah Ponorogo. Dan di antara keduanya terdapat sebuah perjalanan besar, dari kekuasaan menuju keilmuan, dari Wengker menuju Ponorogo, dari Setono menuju Tegalsari.
Sejarah memang sering meninggalkan pertanyaan. Bukan karena sejarah tidak memiliki jawaban. Tetapi karena sebagian jawabannya masih menunggu ditemukan. Mungkin jawabannya ada dalam arsip yang belum dibuka. Mungkin dalam manuskrip yang belum dikaji. Mungkin dalam cerita para sesepuh yang belum pernah ditulis. Atau mungkin hanya sebuah kebetulan. Namun bagi masyarakat Ponorogo, satu nama itu sudah terlanjur memiliki makna yang panjang Setono.
Dua tempat yang berbeda. Dua sejarah yang berbeda. Tetapi sama-sama menjadi saksi perjalanan panjang Ponorogo. Dan mungkin, justru karena itulah pertanyaan tentang dua Setono ini layak terus dicari jawabannya.

