Berita

Bathoro Katong: Jejak Sang Perintis Ponorogo, dari Wengker hingga Kota Reog

foto ilustrasi buatan AI
foto ilustrasi buatan AI

BERITAPONOROGO.COM: Di sebuah kawasan yang kini dikenal sebagai Kelurahan Setono, Kecamatan Jenangan, Ponorogo, jejak sejarah itu masih terawat. Kompleks makam yang berada di kawasan tersebut menyimpan pusara Raden Bathoro Katong, tokoh yang dalam sejarah lokal Ponorogo dikenal sebagai pendiri Kadipaten Ponorogo sekaligus adipati pertama.

Di tempat itu pula nama Patih Seloaji dan Ki Ageng Mirah turut dikenang sebagai bagian dari lingkaran tokoh yang berperan dalam masa awal berdirinya Ponorogo.

Kompleks makam Bathoro Katong kini bukan sekadar tempat ziarah. Pemerintah Kabupaten Ponorogo menyebut kawasan tersebut sebagai salah satu episentrum sejarah Ponorogo, terutama terkait perkembangan pemerintahan, penyebaran Islam, seni dan budaya.

Namun, siapa sebenarnya Bathoro Katong?

Bagaimana seorang tokoh yang hidup pada masa peralihan kekuasaan di Jawa itu dikaitkan dengan lahirnya Ponorogo?

Dan mengapa namanya tetap disebut lebih dari lima abad setelah periode yang secara tradisional dikaitkan dengan pendirian Kadipaten Ponorogo?

Dari Wengker Menuju Ponorogo

Menurut Babad Ponorogo yang dirujuk Pemerintah Kabupaten Ponorogo, Raden Katong datang ke wilayah Wengker dan kemudian memilih kawasan Plampitan, Setono, Jenangan sebagai tempat pemukiman. Ia tidak datang seorang diri.

Dalam catatan tersebut, Raden Katong bersama Selo Aji, Ki Ageng Mirah dan para pengikutnya mulai membangun pemukiman di wilayah yang ketika itu masih menghadapi berbagai tantangan. Sekitar 1482 Masehi, proses konsolidasi wilayah mulai dilakukan.

Periode 1482–1486 M disebut sebagai fase ketika Raden Katong bersama para pendukungnya menyusun kekuatan dan melakukan pendekatan dengan kelompok yang telah lebih dahulu memiliki pengaruh di Wengker, termasuk Ki Ageng Kutu beserta para pendukungnya.

Di sinilah kisah Bathoro Katong bersinggungan dengan sejarah panjang Wengker dan tradisi lokal Ponorogo. Proses pembentukan pemerintahan baru tidak berlangsung dalam satu malam. Ia melalui konsolidasi, pendekatan sosial, pembentukan pemukiman, serta proses membangun kekuatan di tengah perubahan politik Jawa pada akhir abad ke-15.

11 Agustus 1496, Tonggak Berdirinya Ponorogo

Pemerintah Kabupaten Ponorogo menetapkan 11 Agustus 1496 Masehi sebagai hari jadi Ponorogo. Tanggal tersebut dikaitkan dengan berdirinya Kadipaten Ponorogo dan pengangkatan Bathoro Katong sebagai adipati pertama. Pemerintah daerah menjelaskan bahwa penetapan tersebut didasarkan pada kajian terhadap peninggalan purbakala di Ponorogo dan sekitarnya serta rujukan sejarah yang digunakan dalam penetapan hari jadi.  Ada satu hal penting dalam penulisan sejarah yang perlu diperhatikan.

Beberapa dokumen digital Pemerintah Kabupaten Ponorogo menampilkan angka tahun yang salah ketik sebagai 1946, padahal konteks sejarah dan penetapan Hari Jadi Ponorogo merujuk pada 1496 Masehi. Karena itu, angka 1496 yang digunakan dalam naskah ini mengikuti informasi resmi Pemkab pada halaman sejarahnya serta tradisi penetapan Hari Jadi Ponorogo. Dengan demikian, 1496 menjadi tahun yang sangat penting dalam narasi sejarah Ponorogo.

Bathoro Katong ditempatkan sebagai tokoh yang mendirikan Kadipaten Ponorogo dan menjadi adipati pertamanya.

Lembu Kanigoro dan Nama Bathoro Katong

Dalam tradisi sejarah lokal, Bathoro Katong juga dikenal dengan nama Lembu Kanigoro.

Pemerintah Kabupaten Ponorogo dalam sejumlah publikasinya menyebut Raden Batoro Katong sebagai Lembu Kanigoro dan mengaitkannya dengan keluarga Prabu Brawijaya V.

Namun, bagian mengenai silsilah tersebut sebaiknya ditempatkan dalam konteks tradisi babad dan historiografi lokal, bukan diperlakukan sebagai fakta yang telah terverifikasi secara independen oleh seluruh sejarawan.

Hal serupa berlaku terhadap sejumlah cerita mengenai hubungan Bathoro Katong dengan Kesultanan Demak dan jaringan Wali Songo.

Cerita tersebut menjadi bagian penting dari ingatan sejarah masyarakat Ponorogo, terutama dalam narasi mengenai proses Islamisasi wilayah Wengker.

Islam dan Lahirnya Pemerintahan Baru

Salah satu aspek paling penting dalam narasi Bathoro Katong adalah perannya dalam perkembangan Islam di Ponorogo. Pemerintah Kabupaten Ponorogo menyebut Bathoro Katong tidak hanya sebagai pendiri pemerintahan, tetapi juga sebagai tokoh yang berperan dalam penyebaran Islam di wilayah Ponorogo.

Dalam tradisi lokal, penyebaran Islam tersebut tidak selalu dilakukan melalui pendekatan politik atau kekuasaan.

Kesenian dan kebudayaan juga digunakan sebagai media komunikasi dengan masyarakat. Salah satu narasi yang berkembang adalah keterkaitan Bathoro Katong dengan perkembangan Reog Ponorogo.

Menurut laman resmi Pemkab Ponorogo, pada masa Bathoro Katong, Reog yang sebelumnya berkembang dalam tradisi Ki Ageng Kutu kemudian disempurnakan dan digunakan sebagai media berkumpulnya masyarakat sekaligus sarana penyampaian ajaran Islam. Pemkab juga mengutip penelitian tentang peran Bathoro Katong dalam penyebaran Islam di Ponorogo pada periode 1496–1517 M.

Narasi ini menarik karena menunjukkan bahwa perubahan sosial tidak selalu berlangsung melalui benturan langsung. Kesenian justru menjadi ruang perjumpaan. Masyarakat berkumpul karena pertunjukan. Dari kerumunan itu kemudian terbuka ruang komunikasi, termasuk penyampaian nilai dan ajaran keagamaan.

Dari Wengker Menjadi Ponorogo

Perjalanan Bathoro Katong juga menjadi bagian dari perubahan identitas wilayah. Dalam Babad Ponorogo yang dirujuk Pemkab, nama awal Ponorogo dikaitkan dengan istilah Pramana Raga. “Pramana” dimaknai sebagai daya kekuatan atau rahasia hidup, sedangkan “raga” berarti badan atau jasmani. Pemaknaan tersebut kemudian dikaitkan dengan konsep pengendalian diri dan olah batin manusia. Artinya, dalam tradisi lokal, nama Ponorogo tidak hanya dipahami sebagai identitas geografis. Ia juga memiliki lapisan filosofis. Di sinilah sejarah, budaya dan filosofi lokal kemudian saling bertemu.

Setono, Titik Awal Pemerintahan

Hari ini, kawasan Setono mungkin terlihat seperti kawasan permukiman biasa. Namun, dalam narasi sejarah Ponorogo, tempat ini memiliki kedudukan yang sangat penting. Kompleks makam Bathoro Katong berada di Kelurahan Setono, Kecamatan Jenangan.

Menurut data Pemerintah Kabupaten Ponorogo, kompleks makam tersebut memiliki luas sekitar empat hektare dan terbagi dalam 10 pelataran. Gedong utama menjadi lokasi makam Raden Bathoro Katong, sementara kompleks lainnya menjadi tempat pemakaman keluarga, keturunan dan tokoh-tokoh penting yang berada dalam lingkaran sejarah Bathoro Katong, termasuk Ki Ageng Mirah dan Patih Seloaji.

Karena itulah kawasan tersebut tidak hanya penting bagi kegiatan ziarah. Ia menjadi semacam ruang terbuka untuk membaca kembali sejarah lokal. Pelajar, santri dan masyarakat umum datang untuk mengetahui siapa Bathoro Katong dan bagaimana Ponorogo terbentuk.

Juru kunci makam bahkan mencatat adanya peningkatan kunjungan peziarah pada momentum tertentu, termasuk saat peringatan Hari Santri.

Tiga Tokoh dalam Fondasi Ponorogo

Dalam berbagai kegiatan resmi Pemkab Ponorogo, nama Bathoro Katong, Patih Seloaji dan Ki Ageng Mirah kerap disebut secara bersamaan. Ketiganya menempati posisi penting dalam narasi pendirian Ponorogo. Bathoro Katong ditempatkan sebagai pemimpin pemerintahan.

Seloaji dikenal sebagai tokoh yang mendampingi proses perjuangan dan pembentukan pemerintahan.

Sementara Ki Ageng Mirah memiliki posisi penting dalam tradisi keagamaan dan sejarah awal Ponorogo.

Bupati Ponorogo menyebut ketiganya sebagai fondasi berdirinya Ponorogo yang memadukan kepemimpinan, kebijaksanaan dan nilai keagamaan. ([Pemerintah Kabupaten Ponorogo][5])

Makam yang Menjadi Penanda Perjalanan Zaman

Lebih dari lima abad kemudian, nama Bathoro Katong masih hadir dalam berbagai tradisi Ponorogo.

Setiap gelaran Grebeg Suro, kompleks makamnya menjadi salah satu lokasi penting dalam rangkaian ziarah. Bahkan, kirab pusaka Ponorogo memiliki kaitan dengan sejarah perpindahan pusat pemerintahan dari kawasan kota lama di Setono menuju kawasan kota yang berkembang kemudian.

Pemerintah Kabupaten Ponorogo mencatat tiga pusaka yang dikaitkan dengan Bathoro Katong, yakni Tumbak Kyai Tunggul Nogo, Angkin Cindhe Puspito dan Songsong Kyai Tunggul Wulung. Pusaka-pusaka tersebut menjadi bagian dari tradisi kirab yang menghubungkan sejarah masa lalu dengan ritual budaya masa kini.  Dengan demikian, sejarah Bathoro Katong tidak berhenti di makam. Namanya hidup dalam tradisi. Hidup dalam peringatan Hari Jadi Ponorogo. Hidup dalam Grebeg Suro. Dan hidup dalam cara masyarakat Ponorogo memandang asal-usul daerahnya.

Menjaga Sejarah, Bukan Sekadar Mengenangnya

Kini Pemerintah Kabupaten Ponorogo juga menyiapkan penataan kawasan Setono.

Konsep “Ponorogo Rikolo Semono” diarahkan untuk menghadirkan suasana kota lama dengan tetap mempertahankan karakter sejarah kawasan. Penataan tersebut mencakup lingkungan sekitar makam, jalan, drainase, sanitasi, pengelolaan sampah, parkir, kampung UMKM serta pelestarian bangunan bersejarah.

Pemerintah daerah menyebut kawasan makam Bathoro Katong sebagai titik penting dalam sejarah Ponorogo yang tidak terpisahkan dari penyebaran Islam serta perkembangan seni dan budaya.

Artinya, merawat makam bukan hanya merawat sebuah bangunan. Yang dirawat adalah memori kolektif.

Bathoro Katong dan Ponorogo Hari Ini

Bathoro Katong hidup pada masa yang sangat berbeda dengan Ponorogo sekarang. Ia tidak mengenal jalan raya, gedung pemerintahan modern, teknologi digital, maupun batas administrasi Kabupaten Ponorogo seperti saat ini. Namun, jejak yang dikaitkan dengannya masih dapat ditemukan. Di Setono, di makam, dalam tradisi Grebeg Suro, dalam sejarah Hari Jadi Ponorogo, dalam narasi perkembangan Islam, dan dalam kebudayaan Reog yang menjadi identitas kuat daerah ini.

Karena itu, kisah Bathoro Katong bukan hanya cerita tentang seorang adipati pertama. Ia adalah cerita tentang sebuah wilayah yang sedang mencari bentuk**, tentang pertemuan kekuasaan dan kebudayaan, tentang perkembangan Islam, serta tentang bagaimana masyarakat Ponorogo membangun ingatan terhadap asal-usul daerahnya.

Dari Wengker, muncul sebuah pemerintahan. Dari Setono, tumbuh sebuah identitas. Dan dari jejak Bathoro Katong, Ponorogo terus membaca sejarahnya sendiri.