BERITAPONOROGO.COM: Kekeringan di Kabupaten Ponorogo meluas hingga tujuh titik. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ponorogo tidak hanya melakukan distribusi air bersih, tetapi mulai menyiapkan jaringan pipanisasi sebagai solusi jangka panjang.
Kalaksa BPBD Ponorogo Masun mengatakan, hingga 24 September 2026 terdapat tujuh lokasi yang menjadi sasaran bantuan distribusi air bersih dari BPBD bersama para mitranya.
Dua lokasi yang mendapat penanganan terbaru yakni Dukuh Kupit, Desa Caluk, Kecamatan Slahung, serta Dukuh Tumpuk, Desa Sawoo.
Di Dukuh Tumpuk, BPBD menyalurkan bantuan perdana sebanyak 12.000 liter air bersih untuk memenuhi kebutuhan 363 jiwa dari 117 kepala keluarga. Sementara di Dukuh Kupit, distribusi 5.000 liter air bersih dilakukan secara rutin sejak pekan sebelumnya untuk memenuhi kebutuhan 36 kepala keluarga atau 75 jiwa.
Secara keseluruhan, BPBD bersama mitra mendistribusikan sekitar 67.000 liter air bersih setiap pekannya ke wilayah terdampak.
Selain tujuh lokasi tersebut, Desa Wonodadi, Kecamatan Ngrayun, juga tengah menjalani asesmen. Empat RT di wilayah tersebut dilaporkan mulai mengalami krisis air bersih dan membutuhkan sarana penampungan seperti tandon dan jeriken.
BPBD Siapkan Solusi Jangka Panjang
Penanganan kekeringan tidak hanya dilakukan melalui dropping air bersih. BPBD Ponorogo mulai mengarahkan strategi pada pembangunan jaringan pipanisasi.
Langkah tersebut disiapkan karena persoalan kekeringan berulang terjadi setiap musim kemarau. BPBD juga telah memetakan sejumlah alternatif sumber air yang dapat dialirkan melalui jaringan pipa.
Rencana pipanisasi antara lain disiapkan di kawasan Dukuh Dungus dan Karangpatihan, Kecamatan Pulung. Jaringan serupa juga direncanakan di Dukuh Kroyo, Desa Gelangkulon, Kecamatan Sampung, melalui kolaborasi dengan Baznas, serta di Dukuh Bungur, Desa Munggu, Kecamatan Bungkal.
Masun menjelaskan, pendekatan pipanisasi dipilih karena kondisi Cekungan Air Tanah (CAT) di sejumlah wilayah terdampak memiliki keterbatasan.
“Sekarang kita berupaya ke pipanisasi agar air bisa terdistribusi lebih menjangkau banyak KK,” ujar Masun.
Dengan strategi tersebut, penanganan diharapkan tidak hanya menyelesaikan kebutuhan air warga dalam jangka pendek, tetapi juga membangun akses air yang lebih berkelanjutan di wilayah yang setiap tahun menghadapi kekeringan.




