Berita

Lely Kembali Pimpin FPTI Ponorogo, Bidik Wall Panjat Tebing dan Regenerasi Atlet

foto: Istimewa
foto: Istimewa

BERITAPONOROGO.COM: Musyawarah Kabupaten(Muskab) Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Kabupaten Ponorogo yang berlangsung di Aula Kantor DPC PDI Perjuangan Kabupaten Ponorogo, Jalan Budi Utomo, Sabtu (3/10/2026)  kembali mempercayakan tongkat kepemimpinan kepada Relelyanda Solekha Wijayanti. Lely kembali terpilih sebagai Ketua FPTI Ponorogo untuk periode 2026–2030.

Kepengurusan baru langsung dihadapkan pada pekerjaan besar, meningkatkan kualitas latihan, memperkuat regenerasi, dan melahirkan lebih banyak atlet berprestasi dari Ponorogo.

Salah satu target utama Lely pada periode keduanya adalah menghadirkan wall latihan panjat tebing yang lebih representatif.

Fasilitas tersebut dinilai penting karena kualitas atlet tidak hanya ditentukan oleh bakat, tetapi juga frekuensi latihan, kualitas program, serta dukungan sarana yang sesuai dengan kebutuhan pertandingan.

“Yang menjadi target kami di periode kedua adalah menyiapkan wall latihan panjat tebing. Kami ingin sarana latihan lebih representatif sehingga pembinaan atlet bisa semakin maksimal,” kata Relelyanda Solekha Wijayanti, Ketua FPTI Kabupaten Ponorogo.

Prestasi Sudah Ada, Target Harus Naik

FPTI Ponorogo memiliki modal penting untuk menatap periode baru. Sejumlah atlet telah mampu berbicara di level regional hingga internasional.

Salah satunya Putri Wijaya Berliana, atlet asal Desa Japan, Kecamatan Babadan. Putri menunjukkan kapasitasnya di panggung internasional dengan merebut medali perunggu IFSC Youth World Championship 2024 di Guiyang, China, pada nomor Speed Climbing Under 20.

Prestasi tersebut menjadi gambaran bahwa panjat tebing Ponorogo memiliki talenta yang bisa dikembangkan ke level lebih tinggi.

Bagi FPTI Ponorogo, tantangannya kini bukan hanya mencari atlet berpotensi. Yang jauh lebih penting adalah membangun sistem pembinaan agar atlet mampu menjaga performa dan terus naik kelas dari satu kejuaraan ke kejuaraan berikutnya. Regenerasi menjadi kata kunci.

Atlet usia muda perlu mendapatkan ruang latihan yang cukup, program pembinaan berkelanjutan, pengalaman bertanding, serta pendampingan pelatih yang konsisten.

KONI: Panjat Tebing Punya Potensi Besar

Ketua Harian KONI Kabupaten Ponorogo H. Sumani membuka Muskab FPTI Ponorogo sekaligus memberikan apresiasi terhadap kinerja kepengurusan sebelumnya.

Menurut Sumani, atlet panjat tebing Ponorogo telah memberikan kontribusi terhadap prestasi olahraga daerah dengan meraih medali dalam sejumlah kejuaraan, termasuk Kejurprov dan Porprov.

“Kami mengapresiasi kepengurusan sebelumnya karena telah membawa atlet panjat tebing Ponorogo meraih prestasi dan medali dalam berbagai kejuaraan,” ujar*H. Sumani, Ketua Harian KONI Kabupaten Ponorogo.

Sumani menilai panjat tebing merupakan salah satu cabang olahraga yang memiliki potensi untuk terus berkembang di Ponorogo.

Potensi itu terlihat dari munculnya atlet-atlet muda yang mampu bersaing di level lebih tinggi.

FPTI Jatim Soroti Keterbatasan Fasilitas

Perwakilan FPTI Jawa Timur Aris Setiawan juga memberikan apresiasi terhadap perkembangan panjat tebing Ponorogo.

Di tengah keterbatasan sarana dan prasarana, FPTI Ponorogo tetap mampu mengantar atlet mencatat prestasi.

Kondisi tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa potensi atlet lokal cukup besar. Namun, peningkatan fasilitas latihan menjadi pekerjaan penting apabila Ponorogo ingin menjaga sekaligus meningkatkan prestasi.

Muskab kemudian menjadi momentum untuk menyusun arah pembinaan yang lebih terukur.

Bukan sekadar mengejar jumlah atlet, tetapi membangun rantai prestasi dari kelompok usia muda hingga atlet senior.

Wall Latihan Jadi Target Empat Tahun

Lely menyadari persaingan panjat tebing semakin ketat. Atlet tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan alamiah.

Latihan harus berlangsung secara rutin dan terprogram. Teknik harus diasah. Kecepatan harus ditingkatkan. Kekuatan fisik dan mental bertanding juga harus dipersiapkan.

Karena itu, keberadaan wall latihan menjadi salah satu prioritas dalam kepengurusan FPTI Ponorogo 2026–2030.

Dengan fasilitas yang lebih representatif, atlet diharapkan dapat berlatih secara lebih intensif tanpa harus selalu bergantung pada fasilitas di luar daerah.

Target akhirnya jelas: memperbanyak atlet Ponorogo yang mampu naik podium.

Keberhasilan Putri Wijaya Berliana di pentas dunia menjadi salah satu bukti bahwa Ponorogo memiliki talenta yang layak mendapatkan panggung lebih besar.

Kini tugas FPTI adalah menjaga agar prestasi tersebut tidak berhenti sebagai cerita satu atau dua atlet.

Dari wall latihan, lahir atlet. Dari latihan yang konsisten, lahir prestasi. Dan dari pembinaan yang berkelanjutan, Ponorogo diharapkan mampu melahirkan lebih banyak pemanjat tebing yang kompetitif di level nasional maupun internasional.